PENYULUHAN TENTANG PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI ECOBRICK DI DESA MAJANNANG, KEC. MAROS BARU, KAB. MAROS PROVINSI SULAWESI SELATAN
Oleh
Musahwirah, A.Pt. M.Si
PSM Ahli Madya pada BPPMDDTT Makassar
1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penyuluhan
adalah turunan dari kata exstension yang dipakai secara luas dan umum
dalam bahasa Indonesia. Penyuluhan berasal dari kata dasar suluh yang berarti
pemberi terang ditengah kegelapan. Dalam bahasa Belanda penyuluhan disebut Voorlichting
yang berarti memberi penerangan untuk menolong seseorang menemukan jalannya. Penyuluhan
adalah proses pendidikan non-formal yang diberikan kepada masyarakat dengan
tujuan agar masyarakat dapat memecahkan masalahnya sendiri dalam rangka
meningkatkan pendapatannya.
Penyuluhan
adalah suatu kegiatan mendidik sesuatu kepada individu ataupun kelompok,
memberi pengetahuan, informasi-informasi dan berbagai kemampuan agar dapat
membentuk sikap dan perilaku hidup yang seharusnya. Hakekatnya penyuluhan merupakan
suatu kegiatan nonformal dalam rangka mengubah masyarakat menuju keadaan yang
lebih baik seperti yang dicita-citakan (Notoatmodjo, 2012).
Kegiatan
penyuluhan yang dilakukan di Desa Majannang, Kec. Maros Baru, Kabupaten Maros,
dengan tema Pemberdayaan Masyarakat Melalui Ecobrick merupakan bagian
dari kegiatan pendamping mandiri yang dilakukan dalam rangka membantu desa
dalam mengelola sampah yang dihasilkan masyarakat. Desa Majannang merupakan
salah satu desa yang mempunyai masalah dengan sampah. Desa Majannang tidak
memiliki lahan milik desa yang dapat dimanfaatkan untuk menampung dan mengelola
sampah. Selama ini masyarakat melakukan pengelolaan sampah rumah tangga secara
mandiri. Bahkan, banyak masyarakat yang membuang sampahnya di saluran
air/irigasi, sungai, bahkan ke laut, yang menimbulkan dampak besar terhadap
lingkungan. Hal inilah yang melatarbelakangi mengapa kegiatan penyuluhan ini
dilakukan. Untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan bagi masyarakat dalam
mengelola sampah, terutama sampah plastik yang dihasilkan rumah tangga, untuk
dibuat menjadi barang yang berguna.
Salah
satu proses daur ulang yang ramah lingkungan serta tidak menghabiskan biaya
tinggi adalah ecobrick. Ecobrick adalah teknik pengelolaan sampah
plastik yang terbuat dari botol-botol plastik bekas yang di dalamnya telah
diisi berbagai sampah plastik hingga penuh kemudian dipadatkan sampai menjadi
keras. Setelah botol penuh dan keras, botol-botol tersebut bisa dirangkai
dengan lem dan dirangkai menjadi meja, kursi sederhana, bahan bangunan dinding,
menara, panggung kecil, bahkan berpotensi untuk dirangkai menjadi pagar dan
fondasi taman bermain sederhana bahkan rumah
1.2 Tujuan
Tujuan kegiatan penyuluhan tentang Pemberdayaan Masyarakat Melalui
Ecobrick adalah memberikan bekal pengetahuan dan keterampilan bagi masayarakat
Desa Majannang dalam mengelola sampah plastik melalui ecobrick.
1.3 Lokasi Kegiatan Penyuluhan
Kegiatan penyuluhan dilaksanakan di Aula Desa Majannang, Kec. Maros
Baru, Kab. Maros, Sulawesi Selatan.
1.4 Waktu Pelaksanaan Penyuluhan
Kegiatan penyuluhan dilaksanakan
pada hari Senin, tanggal 28 November 2022.
1.5 Sasaran Kegiatan Penyuluhan
Sasaran kegiatan
penyuluhan tentang Pemberdayaan Masyarakat Melalui Ecobrick adalah tercapainy
peningkatan pengetahuan dan keterampilan bagi masyarakat Desa Majannang dalam
mengelola sampah plastik melalui ecobrick.
1.6 Peserta Penyuluhan
Kegiatan penyuluhan
tentang Pemberdayaan Masyarakat Melalui Ecobrick diikuti sebanyak 28 orang yang
merupakan kader desa yang aktif dikegiatan PKK dan Kader Posyandu.
(Daftar nama
terlampir)
2. METODE DAN PERALATAN
2.1 Metode/Cara
·
Kegiatan penyuluhan
Pemberdayaan Masyarakat Melalui Ecobrick merupakan bagian dari kegiatan
pendampingan masyarakat yang dilakukan secara mandiri, yang dimulai pada bulan
Oktober 2022 sampai Februari 2023.
·
Kegiatan ini diawali
dengan koordinasi dengan pihak Pemerintah Desa Majannang terkait masalah sampah
dan pengelolaan sampah yang dilakukan oleh desa selama ini.
·
Setelah dilakukan
koordinasi, kemudian bersama dengan pihak pemerintah desa dan organisasi di
desa (PKK, Kader Posyandu dan kader desa lainnya) melakukan identifikasi
terkait yang dapat dilakukan pada kegiatan pendampingan.
·
Melakukan diskusi tentang
kegiatan penyuluhan tentang Pemberdayaan Masyarakat Melalui Ecobrick
dengan melibatkan kader PKK, kader posyandu, dan kader desa lainnya.
·
Menyusun rencana
kegiatan penyuluhan serta membuat materi dalam bentuk power point.
·
Untuk mencapai suatu
hasil yang optimal, penyuluhan harus disampaikan menggunakan metode yang sesuai
dengan jumlah sasaran.
2.2 Media
Dalam melakukan
kegiatan penyuluhan menggunakan media laptop, LCD, plano, spidol dan beberapa
kemasan produk yang akan dimanfaatkan sebagai alat peraga.
3. HASIL KEGIATAN PENYULUHAN
Kegiatan penyuluhan
tentang Pemberdayaan Masyarakat Melalui Ecobrick dilatarbelakangi oleh
permasalahan sampah yang dihadapi oleh Desa Majannang. Kebiasaan masyarakat
yang sering membuang sampah di saluran air/irigasi, di sungai, bahkan di laut
akan memberi dampak pencemaran terhadap lingkungan. Salah satu hal sederhana yang
dapat dilakukan dalam mengelola limbah sampah adalah dengan membuat ecobrick.
Ecobrick merupakan salah satu pengelolaan sampah dengan memanfaatkan
limbah sampah plastik bekas produk, baik produk makanan maupun produk
non-makanan seperti limbah plastik deterjen, molto, sabun cair, minyak goreng,
dan limbah plastik lainnya.
Ecobrick berasal dari
dua kata dalam bahasa inggris, yaitu ecology dan brick. Di mana
ecology menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diartikan sebagai ilmu
tentang hubungan timbal balik antara makhluk hidup dan (kondisi) alam
sekitarnya (lingkungannya). Adapun brick berarti bata, batu, batu merah/tembok.
Dua kata ini jika digabungkan menjadi “ecobrick” dapat diartikan bata ramah
lingkungan. Ecobrick adalah teknik pengelolaan sampah plastik yang
terbuat dari botol-botol plastik bekas yang di dalamnya telah diisi berbagai
sampah plastik hingga penuh kemudian dipadatkan sampai menjadi keras. Setelah
botol penuh dan keras, botol-botol tersebut bisa dirangkai dengan lem dan
dirangkai menjadi meja, kursi sederhana, bahan bangunan dinding, menara,
panggung kecil, bahkan berpotensi untuk dirangkai menjadi pagar dan fondasi
taman bermain sederhana bahkan rumah
Salah satu pemimpin
utama gerakan ecobrick dunia yaitu Russel Maier. Russel yang merupakan seorang
desainer regeneratif dari Kanada ini telah mengembangkan teknologi ecobrick
sejak tahun 2012 di Philippines dan Bali. Keahliannya adalah memicu ecobricking
menjadi gerakan komunitas, kota dan Negara. Ecobrick adalah suatu sistem untuk
mengelola dan menggunakan ulang sampah plastik. Program ecobrick sebagai suatu
sistem pengelolaan sampah berkelanjutan, dengan cara yang sederhana dan bahan
yang terjangkau diharapakan dapat meningkatkan partisipasi maysarakat dalam
pengelolaan sampah berkelanjutan
Pada kegiatan
penyuluhan Pemberdayaan Masyarakat Melalui Ecobrick, materi penyuluhan
disampaikan dengan power point melalui LCD, yang berisi tentang
sampah, dampak limbah sampah, cara mengelola sampah, yang salah satunya adalah
dengan ecobrick yang dapat dibuat menjadi barang yang bermanfaat.
Setelah selesai paparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan praktek pembuatan
ecobrick.
Pada tahap ini
peserta akan diberikan pelatihan cara pembuatan ecobrick dengan memanfaatkan
sampah yang dihasilkan di rumah tangga. Sebelumnya, pada tahap penyuluhan telah
disampaikan bahwa setelah mengikuti kegiatan penyuluhan, masyarakat diharapkan
telah mengumpulkan botol dan sampah plastik rumah tangga untuk nantinya akan
dimanfaatkan pada kegiatan pelatihan. Sampah yang terkumpul harus dibersihkan
terlebih dahulu agar tidak mempengaruhi kualitas ecobrick yang dihasilkan.
Langkah pembuatan
ecobrik :
a Siapakan bahan yang akan digunakan, berupa : sampah plastik (plastik
bungkus produk) dan plastik kresek yang telah dibersihkan dan kering untuk
menghindari bakteri tumbuh dalam botol ecobrick. Selain itu, siapkan botol
bekas air mineral (botol telah bersih dan kering sebelum diisi dengan sampah
plastik). Botol-botol ini nantinya akan menjadi bata dalam membuat ecobrick.
Ukuran botol bekas yang digunakan dapat 600 ml atau 1.500 ml sesuai kebutuhan.
Tongkat (dapat menggunakan alat rumah tangga berupa sutil kayu) yang panjangnya
melebihi ukuran botol yang digunakan, juga dibutuhkan untuk mendorong sampah ke
dalam botol.
b Pastikan tidak ada kertas, logam dan plastik yang bio-degradable
(plastik yang bisa terurai) karena akan mempengaruhi kualitas ecobrick.
Bahan-bahan tersebut masih dapat dimanfaatkan untuk keperluan lain.
c Sampah yang telah dikumpulkan, digunting kecil-kecil agar mudah
dimasukkan ke dalam botol. Plastik kresek yang berwarna dapat dimasukkan
terlebih dahulu hingga ketebalan 1 – 2 cm yang digunakan sebagai pondasi.
Jangan lupa untuk memadatkan dengan cara mendorong-dorong plastik dengan
tongkat, agar seluruh plastik padat mengisi ruangan dalam botol. Setelah itu,
dapat diisi dengan plastik lain, dengan terus menekan agar plastik padat. Jika
masih tersisa rongga udara di dalam botol, isi kembali dengan sampah plastik
sampai tidak ada rongga udara yang tersisa. Dorong kembali semua sampah plastik
menggunakan tongkat.
d Botol diisi dengan sampah plastik hingga penuh kemudian ditimbang. Berat
minimum untuk botol ukuran 1.500 ml adalah 500 gr dan untuk botol mineral
ukuran 600 ml adalah 200 gr. Berat minimal = volume botol x 0,33 g/ml adalah
kepadatan minimum ecobrick yang bagus. Kalau jumlahnya terlalu banyak, sisihkan
sedikit sampah plastik di dalamnya. Sementara jika beratnya kurang dari 200
gram, isi kembali botol dengan sampah plastik.
e Berikan label di setiap ecobrick : berat dan tanggal pembuatan.
f
Simpan ecobrick yang
sudah jadi di tempat yang teduh. Hindari paparan sinar matahari langsung agar
botol-botol plastik ecobrick ini tidak menyusut.
Setelah kegiatan
penyuluhan, dilanjutkan dengan kegiatan pendampingan, sehingga diharapkan
kegiatan ini dapat menjadi kegiatan yang berkelanjutan dan dapat menjadi
kegiatan desa yang menyebar ke desa lainnya.
4. KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Kegiatan penyuluhan
tentang pemberdayaan masyarakat melalui ecobrick diikuti secara serius
dan antusias oleh masyarakat yang mengikuti kegiatan pelatihan. Kegiatan ini
untuk mendorong masyarakat mau melakukan pengelolaan sampah sehingga dapat
mengurangi limbah sampah plastik rumah tangga. Salah satu cara yang dapat
dilakukan adalah dengan membuat ecobrick menjadi barang yang bermanfaat.
Ecobrick merupakan cara memanfaatkan limbah plastik dengan cara yang murah,
mudah, dan dapat dilakukan oleh siapa saja, sehingga dapat menjadi salah satu
kegiatan yang bermanfaat di desa.
4.2 Saran
Semoga
kegiatan yang dilakukan ditindaklanjuti dengan kegiatan pendampingan, sehingga mampu merubah kebiasaan masyarakat yang
suka membuang sampah di saluran air/irigasi, sungai, dan laut, menjadi
kebiasaan yang memanfaatkan sampah dengan membuat ecobrick.
5. PENUTUP
Demikian laporan pelaksanaan tugas dalam
rangka kegiatan penyuluhan dengan tema tentang Pemberdayaan
Masyarakat Melalui Ecobrick di Desa Majannang, Kec. Maros Baru, Kab. Maros,
Provinsi Sulawesi Selatan sebagai bahan periksa dan penentuan
kebijakan lebih lanjut.
Makassar, 30 November 2022
Pelaksana Kegiatan Penyuluhan
Penggerak Swadaya Masyarakat,





Comments
Post a Comment